Oleh: nardinurses | Agustus 3, 2008

TANGGAPAN ATAS KOMENTAR-KOMENTAR

Assalamu’aikum, selamat pagi, siang, sore, malam

Selamat bagi semuannya…….terima kasih atas semua komentar-komentarnya baik dari teman-teman sejawat dari profesi perawat dan juga bagi teman-teman dari profesi lain……..Saya sangat berterima kasish atas komentar, saran dan juga hujatan bagi saya dan juga bagi teman-teman perawat.

Diantara komentar-komentar tersebut ada yang sangat memojokkan, merendahkan cacimaki…..tetapi ada juga yang berespon baik. Apapun bentuk komentar yang anda sampaikan saya terima dengan baik dan lapang dada…..tetapi sekali lagi tetap menjadi kaidah kesopanan dan aklak mulai. Kami perawat terutama saya sendiri tidak pernah sedikitpun mencaci-memaki dan juga merendahkan profesi lain, tetapi kenapa anda berkomentar seakan-akan profesi anda yang paling hebat, yang paling benar…..ingat kebenaran ada pada Allah dan manusia hanya melaksanakan kehendaknya.

Profesi perawat sesuai yang saya pelajari dari SPK sampai Jenjang Spesialis Perawat saat ini, merupakan tugas mulai dan penuh dedikasi, bila ada perawat yang tidak baik, tidak berkenan prilakunya terhadap pasien itu bukan kesalahan dari profesi perawat tetapi hanya sifat manusiannya, seperti juga profesi anda tidak semua orang yang menjadi dalam profesi anda baik, dalam profesi anda ada juga yang judes, mengabaikan pasien dan hanya menuntut ongkosnya saja…….jadi apapun profesinya dapat saja melakukan penyelewengan dan juga prilaku tidak baik tetapi jangan rendahkan dan jangan salahkan profesinya karena semua itu merupakan watak dari manusiannya.

Saya sampai saat ini sudah terhitung 12 tahun mempelajari ilmu keperawatan dan semakin saya pelajari …semakin dalam semakin saya tidak tahu apa ilmu keperawatan yang sebenarnya…..jadi kalau anda tidak pernah membaca maupun mempelajari ilmu keperawatan bgaimana anda bisa mengatakan ilmu keperawatan itu rendah dan tidak ada hargannya………..bila anda pernah keluar negeri anda pasti terkejut penerimaan dan keilmuan keperawatan disana sangat berbeda dengan yang ada di Indonesia……asal anda tahu hanya Indonesia yang tidak mempunyai badan regulasi untuk perawatnya yaitu (Council Ners), Jadi jangan juga perawatnya yang dijadikan kambing hitam dan disalahkan atas carut marutnya keperawatan diIndonesia, bagaiamana tidak bahwa badan regulasi saja tidak punya padahal hal itu pening untuk mengontrol dan memberikan pelayanan kepadan masyarakat……..artinya diIndonesia tidak ada badan regulasi yang mengatur keberadaan, kewenangan, kompetensi, pelayanan perawatan. padahal tenaga perawat sangat banyak dan besar diseluruh INDONESIA.

Memang saat ini regulasi menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Depkes…….tetapi bisa anda lihat diskriminasi, kewenang-wenangan dan mengabaikan kesejahteraan perawat sangat besar dan berlangsung sangat lama sampai saat ini, jadi bila mana saat ini pendidikan perawat berkembang sampai jenjang S-2 dan Spesialis hal ini hanya semata-mata untuk memperbaiki dan meningkatkan tenaga perawat. Tetapi bila masih ada kekurangan hal ini menjadi hal yang lumrah dan biasa…oleh karena itu perlu diberikan kejelasan dan kemandirian dalam perawat mengatur sendiri perawat jangan dicampur adukan dan selalu diintervensi keberadaannya.

Bagi yang berkomentar tentang praktek klinik keperawatan saya……..anda tidak perlu kwatir bahwa kami perawat mengambil hak atau kewenangan saudara……..saya dengan sadar dan jelas bahwa saya perawat spesialis maka saya akan lakukan kegiatan yang hanya berhubungan dengan dunia keperawatan………yang notabene sudah berlimpah kegiatannya, diklinik yang saya coba dirikan adalah praktek keperawatan yang diperkuat oleh ahli akupuntur, herbalis dan semua mereka sudah mempunyai sertifikat sesuai dengan keahlian masing-masing. Anda juga perlu tahu bahwa sampai saat ini semenjak klinik saya dirikan tidak ada satu pasien yang datang komplain atas apa yang dilakukan diklinik saya.

Saat ini tidak ada satupun profesi kesehatan yang lebih hebat dari profesi kesehatan lainnya, semuannya sudah pada koridor masing-masing…..Jadi jangan anda kuatir lahan saudara diambil perawat, pekerjaan perawat banyak. Coba anda lihat di RS pekerjaan apa yang tidak bisa dilakukan oleh perawat, semuannya bisa dilakukan oleh perawat tetapi teman-teman profesi lain menutup mata atas semua itu. Saya contohkan siapa yang merawat pasien di RS, siapa yang mengurus makan di RS, Siapa yang menunggu pasien 24 jam, Siapa yang perduli terhadap pengendalian infeksi, siapa yang melakukan management ruangan……….ini hanya sebagian pertanyaan yang boleh anda tanyakan di RS, apa pekerjaan yang dilakukan perawat ??????????????????????????

Walaupun saat ini perawat hanya menerima perintah, tetapi bahwa perawat yang melakukan semua pekerjan itu….jadi jangan menutup mata atas semua itu……………..Memang Kalau perawatnya ada diabaikan Tetapi bila perawat tidak ada dicari-cari….mana perawatnya ? pertanyaan itu yang selalu terlontar, tetapi kalau perawatnya ada bodo deh………….

Pengalaman saya saat residensi….kami berhubungan dan berkolaborasi, bekerjasama dengan dokter-dokter residen dan juga para chip yang ada di peminatan kami dan mereka sangat welcome dan juga apresiasi pada kami………..tidak ada yang merendahkan seperti komentar-komentar anda, karena mereka tahu bahawa perawat merupakan patner bagi semua profesi yang sedang ada di RS dan juga komunitas, hanya saja Indonesia sampai saat ini tidak mempunyai perangkat hukum yang memadai untuk mengangkat martabat perawat yang lebih tinggi.

JADI SEKALI LAGI SILAHKAN ANDA  KOMENTAR PADA BLOK INI TETAPI TETAP MEJAGA KESOPANAN DAN AKLAK MULIA.

About these ads

Responses

  1. Definisi malpraktek keperawatan adalah “kelalaian dari
    seseorang perawat untuk mempergunakan tingkat
    kepandaian dan ilmu pengetahuan dalam merawat
    pasien,atau melakukan tindakan medis yang lazim dipergunakan terhadap pasien atau orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama” (Valentin v. La Society de Bienfaisance Mutuelle de Los Angelos, California, 1956).

  2. Untuk malpraktek keperawatan secara hukum atau yuridical malpractice dibagi dalam 3 kategori sesuai bidang hukum yang dilanggar, yakni Criminal malpractice, Civil malpractice dan Administrative malpractice.
    1. Criminal malpractice
    Perbuatan seseorang dapat dimasukkan dalam kategori criminal
    malpractice manakala perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik pidana
    yakni :
    a. Perbuatan tersebut (positive act maupun negative act) merupakan
    perbuatan tercela.
    b. Dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea) yang berupa
    kesengajaan (intensional), kecerobohan (reklessness) atau kealpaan
    (negligence).
    _ Criminal malpractice yang bersifat sengaja (intensional) misalnya
    melakukan euthanasia (pasal 344 KUHP), membuka rahasia jabatan
    (pasal 332 KUHP), membuat surat keterangan palsu (pasal 263
    KUHP), melakukan aborsi tanpa indikasi medis, sirkumsisi,melakukan persalinan abnormal ( pasal 299 KUHP).
    _ Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya
    Perawat melakukan tindakan medis tanpa persetujuan pasien dan tidak ada pendelegasian dari dokter (informed consent)
    _ Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) misalnya kurang
    hati-hati mengakibatkan luka, cacat atau meninggalnya pasien,
    Pertanggung jawaban didepan hukum pada criminal malpractice adalah
    bersifat individual/personal dan oleh sebab itu tidak dapat dialihkan
    kepada orang lain atau kepada rumah sakit/sarana kesehatan.

  3. Setelah membaca keterangan lengkap tentang malpraktek keperawatan secara mendalam di atas lalu timbul pertanyaan, apakah anda sudah berani membuka praktek keperawatan mandiri ? Bagaimana anda membedakan praktek keperawatan dengan tindakan medis ? Apa contohnya ?
    maaf,saya sendiri praktisi hukum yg masih bingung dengan praktek perawat mandiri itu yg bagaimana ? misal, ketika ada masyarakat yg berobat dg sakit kepala dan ternyata tensinya tinggi,lalu berobat dengan perawat yg buka praktek lantas apakah perawat tersebut memberikan obat ataukah meresepkan obat ? Tolong jelaskan disini

  4. Terima Kasih Atas Pertanyaan Yang diajukan……Mungkin saya dapat menjelaskan sedikit tentang praktek mandiri keperawatan.
    Sebagai praktisi hukum anda akan mengerti tentang praktek keperawatan mandiri di Indonesia mungkin hanya berpegang pada Kepmenkes 1239 Tahun karena hanya itu yang menjadi dasar adanya praktek mandiri keperawatan. dalam Kepmenkes tersebut anda memahami sekali tentang praktek keperawatan tetapi Kepmenkes tersebut masi setengah-setengah memperbolehkan perawat praktek mandiri. saya hanya dapat menjelaskan praktek mandiri perawat adalah perawat yang mmeberikan Asuhan keperawatan secara mandiri didalam prakteknya baik dimasyarakat maupun diinstitusi keperawatan. Memberikan asuhan keperawatan adalah Melakukan pengkajian, penegakan diagnosa keperawatan, perencanaan dan melakukan tindakan keperawatan seta mengevaluasi semua tindakan perawatan yang dilakukan. Tindakan keperawatan contoh paling jelas diantaranya adalah Pendidikan kesehatan masyarakat sesuai kasusnya, konsultasi kesehatan, dapat memberikan terapi modalitas bersifat komplementar yang tersedia dimasyrakat (bukan terapi obat kimia). mungkin cukup dengan memberi penejlasan tentang apa itu hipertensi dapat menurunkan TD pasien karena secara logika TD dapat tinggi bila pasien mengalami stress.

    Kami perawat juga belajar dan memperlajari tentang hukum, etika, serta hak dan kewajiban kami perawat dengan pasien atau sebaliknya, jadi tidak hanya melulu belajar tentang keperawatan. Sesuai yang anda contohkan: pasien datang kepraktek mandiri perawa dengan Hipertensi, maka kewajiban perawat: melakukan pengakjian (Memeriksa), penegakakan diagnosa sesuai keluhan pasien, dan merencanakan tindakan keperawatan yang sesuai dan bila perlu komplementar. Memang tidak ada resep obat-obatan kimia tetapi bila memberikan pengetahuan dan menunjukan obat-obatan tradisional yang bisa didapat oleh pasien mungkin hal itu lebih baik (karena komplementar nursing memang dipelajrai seperti juga negara2 selain di Indonesia), Jadi Kami tidak memberikan resep ataupun obat kimia, Bila di tempat praktek saya ada obat herbal seperti dalam gambar karena saya adalah anggota dari HPA dan saya belajar khusus tentang herbal dan akupuntur jadi bisa saja dengan sertifikat yang saya miliki saya bisa mengembangkan bentuk praktek complementari nursing, yang sampai saat ini di Indonesia masih diperdebatkan. dan masih banyak perdebatan lainnya yang menyankut AREA ABU-ABU Perawat dengan profesi lainnya dan belum pewrnah terselesaikan karena tidak ada jembatan untuk pembahasan hal tersbut.

    Demikian penjelasan saya yan mungkin bisa menjelaskan walaupun belum banyak memberikan penjelasan……memang perawat di Indonesia harus punya undang-undang keperawatan dan juga konsil seperti negara-negara lain sehingga dapat berperan sebagai regulator tentang pelayanan keperawatan dan menjadi mutu pelayanan yang benar.

    terima kasih

  5. Trims atas jawabannya dan saya sangat setuju sekali dengan penjelasan saudara bahwa praktek perawat adalah dgn melakukan konseling dan edukasi namun kalau sudah memberikan obat walaupun herbal atau komplementer harus ada tanggung jawab hukumnya dari perawat tersebut apalagi sepanjang pengetahuan saya bahwa obat herbal tidak tertulis indikasi dan efek samping sesuai dg standar obat lazimnya, karena itu obat herbal hanya diakui sebagai suplemen dan bukan OBAT dalam pengertian CURE. Kemudian soal terapi komplementer yg diberikan pada pasien itu apakah sudah ada dalam buku standar kompetensi praktek keperawatan yg dikeluarkan oleh PPNI sebagai landasan hukum dan wewenang pedoman bagi perawat yg praktek mandiri ?

  6. Terima Kasi banyak pertanyaan dan tanggapanya…. disinilah fungsi saya mebuat blog ini, yang salah satunnya adalah memberikan wawasan kepada teman-teman praktisi keperawatan maupun praktisi lain diluar keperawatan dengan tujuan terjadi kesamaan dan tentang pengetahuan keperawatan, karena terus terang di Indonesia saat ini perawat hanya dianggap profesi yang marginal, padahal perawat juga ikut menentukan kesehatan masyarakat Indonesia, sejak zaman sebelum merdeka, zaman perjuangan dan sampai sekarang, diluar negeri perawa sangat terhormat dan dihormati sama dengan profesi kesehatan lainnya.

    sampai saat ini area komplementary nursing sedang menjadi pokok bahasan untuk menjadi salah satu kompetensi perawat di Indonesia, karena ilmunya ada dan dipelajari yaitu komplementari nursing, tetapi di Indonesia masyrakat dan profesi diluar perawat belum mengenal kompelemtary nursing oleh karena itu saat ini menjadi perdepan alot, melalui PPNI sepertinya saat ini ini menjadi pokok bahasan wewenang tindakan keperawatan termasuk area ABU-ABU yang banyak bersinggungugan dengan profesi lain.

  7. Maaf,sepertinya saudara tidak menjawab pertanyaan saya ; apakah sudah ada dalam buku standar kompetensi praktek keperawatan yg dikeluarkan oleh PPNI sebagai landasan hukum dan wewenang pedoman bagi perawat yg praktek mandiri ?
    Atau PPNI sampai saat ini belum mengeluarkan Buku Pedoman Praktek Perawat Mandiri sebagai Standar Kompetensi Praktek Perawat Mandiri di Indonesia ?

  8. Sebagai informasi tambahan bahwa saat ini sudah ada :
    Perhimpunan Kedokteran Komplementer dan Alternative Indonesia (PKKAI) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.1109 tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer dan alternatif di sarana
    pelayanan kesehatan. Dalam Peraturan tersebut antara lain diatur dokter praktisi CAM perlu
    memenuhi standar tertentu (SOP, dll.) namun tidak disebutkan bahwa profesi perawat boleh melakukan terapi komplementary. Bagaimana menurut pandangan saudara ? Bilamana diperbolehkan bagaimana membedakan tindakan pengobatan komplementary yg dilakukan oleh dokter, perawat, sinshe dan praktisi kesehatan lainnya ? Sejauh pengamatan saya hanya profesi dokter yg punya dasar hukumnya melakukan terapi komplementary tersebut.

    • Saya sangat tidak bisa memahami apa kepentingan anda terhadap kompetensi seorang perawat. Saya Toto Dinar seorang perawat indonesia yang alhamdulillah sudah bekerja di lebih dari 5 negara di dunia dengan menjadi seorang perawat profesional. Kalau anda mungkin, mohon maaf mau tahu apa itu perawat apa saja kewenangan nya, mohon anda membaca referensi ataupun buku2 mengenai keperawatan dan apa saja yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh perawat. Itu mungkin jauh lebih baik untuk anda, daripada sekedar merendahkan profesi orang lain. Sesungguhnya semakin kita memperlajari sesuatu, maka kita justru tidak mengetahui apapun.
      Silahkan anda sadari juga, bahwa profesi kita juga tergantung dengan profesi lain. Alhamdulillah saya bangga menjadi perawat, semoaga ALLAH memuliakan saya dengan profesi saya.
      Asal anda tahu, untuk menjadi seorang perawat di indonesia adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan dalah hidup saya. Dimulai dari sekolah SPK 3 tahun, kemudian melanjutkan AKPER 3 tahun, kemudian s1 2 tahun di tambah profesi ners 1 tahun, jadi untuk sekedar jadi Perawat umum saja saya menghabiskan waktu sekitar 9 tahun mas. Di lahan praktek saya telah menghabiskan sisa hidup saya untuk berbagi dengan sesama.
      Jadi kalau anda kemudian bertanya mengenai kompetensi, yah saya mohon maaf saja, kalau saya bilang SAYA SEORANG PERAWAT AHLI…saat ini saya bekerja di perusahan oil and gas menjadi seorang spesialis untuk Occupational healh and safety di timur tengah.

  9. jAWABAN ATAS PERTANYAAN SAUDARA
    1. PPNI sampai saat ini belum secara resmi mengeluarkan buku pedoman tentang komplentary nursing (sepengetahua saya masih dalam draff pembahasan) Tetapi kami di FIKeperawatan komplementary nursing sudah mulai diperkenalkan dari sumbernya memamng ada
    2. Tentang pembedaan Pengobatan komplementary yang dilakukan dokter dan praktisi kesehatan lainnya: Menurut saya harus dibuat aturan yang jelas dan mungkin harus dilakukan pemilahan-pemilahan sesuai dengan kepakarannya (karena ilmunya memang dapat dipelajari siapa saja, Contoh: Obat-obat tradisional berasal dari nenek moyang, turun temurun sudah ada hanya sekarang harus dibuktikan dengan ilmiah berdasaran penelitian (jadi bukan cuma ilmunya sau profesi kesehatan saja siapa saja bisa mempelajari), contoh lain akupuntur ……aslinnya berasal ilmu tradisional cina dan dapat dipelajari oleh siapapun,bukan punya dokter saja……dicina sendiri dipelajari juga oleh perawat dan perawat melakukannya (tentunya dengan aturan yang jelas).
    3. Hanya mengingatkan bahwa didalam undang-undang kesehatan No.23 Tahun 1992 tentang kesehatan diamanahkan bahwa pada pasal 1 ayat 7 dikatakan tentang pengobatan tradisional dapat dilakukan dan dipertanggung jawabkan.
    pasal 32 ayat 2 bahwa penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dilakukan dengan pengobatan dan atau perawatan, ayat 3 Pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
    4. Pertanyaan saya pada saudara praktisi hukum…..bagaimana pendapat saudara, tentang undang-undang tersebut, jelas mengatakan hak dan kewajiban perawat tetapi kenapa setiap perawat yang ingin maju dan berperan dalam mencipakan kesehatan masyarakat (tentunya dengan aturannya) selalu mendapat pressure, Kami harus bagaimana untuk dapat mensejajarkan profesi kami dengan teman2 kami yang diluar (tentunya kesejajaran untuk meningkatkan derajat kesehatan rakyat).

  10. Pendapat saya atas komentar saudara bahwa sebelum perawat buka praktek mandiri harus ada :
    Pertimbangan hukum :
    a.Standar kompetensi perawat
    b.Konsil Keperawatan Indonesia
    c.Kolegium Perawat Indonesia
    d.Asosiasi Institusi Keperawatan Indonesia
    e.Institusi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI)
    f.Undang-Undang Praktek keperawatan tentang Praktik Keperawatan beserta penjelasannya;
    Apakah sudah ada ? Kalau belum berarti PPNI sebagai Pionir harus mampu memulainya untuk membentuk lembaga seperti diatas untuk menunjang landasan hukum buat praktek perawat mandiri, jadi tidak melulu nasib perawat itu terpaku dg Depkes dan Pemerintah.
    Pertimbangan pendidikan perawat yang akan buka praktek harus juga mengacu pada:
    a.Undang-Undang RI tahun 2003 tentang Sisdiknas
    b.Peraturan Pemerintah tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengatakan bahwa kurikulum program studi menjadi wewenang institusi pendidikan keperawatan, maka Standar Kompetensi Perawat merupakan kerangka acuan utama bagi institusi pendidikan Keperawatan dalam mengembangkan kurikulumnya masing-masing.Sehingga, walaupun kurikulum berbeda, tetapi perawat yang dihasilkan dari berbagai institusi diharapkan memiliki kesetaraan dalam hal penguasaan kompetensi untuk buka praktek mandiri
    c. Dengan Standar Kompetensi, Depkes dan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang akan memberikan lisensi dapat mengetahui kompetensi apa yang telah dikuasai oleh perawat dan kompetensi apa yang perlu ditambah, sesuai dengan kebutuhan spesifik di tempat kerja. Dengan demikian pihak Depkes dan Dinas Kesehatan dapat menyelenggarakan pembekalan atau pelatihan jangka pendek sebelum memberikan ijin Praktik.
    d. Prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi dgn Tujuan utama pendidikan perawat
    e. Standar Kompetensi Perawat ini meliputi 80% dari total kurikulum suatu program studi.
    Mungkin ada tambahan dari teman2 praktisi hukum terutama hukum kesehatan,monggo…

  11. Saya mencoba menjelaskan tentang Pengobatan komplementary yang dilakukan dokter adalah berdasarkan Standar Kompetensi Dokter (Edisi pertama,2006,Penerbit :
    Konsil Kedokteran Indonesia) yaitu bahwa tugas dokter :
    •Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis sementara dan diagnosis banding
    •Menjelaskan penyebab, patogenesis, serta patofisiologi suatu penyakit
    •Mengidentifikasi berbagai pilihan cara pengelolaan yang sesuai penyakit pasien.
    •Memilih dan menerapkan strategi pengelolaan yang paling tepat berdasarkan prinsip kendali mutu, kendali biaya,manfaat, dan keadaan pasien serta sesuai pilihan pasien
    •Melakukan konsultasi mengenai pasien bila perlu
    •Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku, tanpa atau sesudah terapi awal
    -Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan
    bertanggung jawab sesuai dengan tingkat kewenangannya
    •Memberi alasan strategi pengelolaan pasien yang dipilih berdasarkan patofisiologi, patogenesis, farmakologi, faktor psikologis, sosial, dan faktor-faktor lain yang sesuai
    •Membuat instruksi tertulis secara jelas, lengkap, tepat, dan dapat dibaca
    •Menulis resep obat secara rasional (tepat indikasi, tepat obat,tepat dosis, tepat frekwensi dan cara pemberian, serta sesuai kondisi pasien), jelas, lengkap, dan dapat dibaca
    •Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan,memonitor perkembangan penanganan, memperbaiki dan mengubah terapi dengan tepat
    •Memprediksi, memantau, mengenali kemungkinan adanya interaksi obat dan efek samping, memperbaiki atau mengubah terapi dengan tepat
    •Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga secara holistik, komprehensif, koordinatif, kolaboratif, dan berkesinambungan dalam mengelola penyakit dan masalah pasien
    •Mengidentifikasi peran keluarga pasien, pekerjaan, dan lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pertimbangan terapi

    Contoh diatas : Pasien dg keluhan nyeri kepala dan tensinya tinggi : Lalu ditegakan diagnosa medis sementara : Sefalgia ec hipertensi sehingga penatalaksanaan medisnya adalah : non-medikamentosa : Istirahat, Diet rendah garam dan medikamentosanya : Analgetika,Antihipertensi,Obat penenang
    Rencanakan pemeriksaan penunjang seperti laboratorium,Rontgen,EEG,CT scanning kepala dan USG Ginjal
    Sedangkan untuk pengobatan herbal, dokter sepakat tidak menganjurkan namun tidak juga melarangnya.
    Nah bagaimana dg Standar Kompetensi Perawat tentang Pengobatan komplementary yang dilakukan perawat ? Apakah Saudara bisa menjelaskannya disini ? Terima Kasih

  12. Ditujukan kepada perawat yg buka praktek tanpa izin dan dasar hukum yg jelas wajib membaca ini :
    UU RI No.8 Thn.1999 Tentang Perlindungan Konsumen
    Tindakan praktek keperawatan anda yg dapat merugikan klien/pasien atau konsumen dapat menjerat anda secara hukum dikenakan sanksi pidana melalui UU Perlindungan Konsumen.
    Mohon agar dapat diindahkan dan diperhatikan agar jangan sampai rakyat atau masyarakat yg dirugikan

    Perawat tak bisa sembarangan buka praktek mandiri dg melakukan tindakan medis walaupun terbatas. UU No. 29 Tahun 2004 memuat sanksi pidana dan denda kepada siapapun yang menjalankan praktek kedokteran tetapi sebenarnya tidak berwenang. Sumber: Hukumonline.com

    Sekedar mengingatkan bahwa sesuai dengan peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang menegaskan perawat dan bidan melakukan pekerjaannya harus dibawah pengawasan dokter. “Akan tetapi jika terjadi penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan dalam algoritma klinik yaitu dengan terjadinya malpraktek maka perawat dan bidan harus bertanggung jawab atas terjadinya malpraktek tersebut,”

    Perawat yg terbukti memberikan pelayanan medis secara mandiri menyalahi Permenkes RI Nomor 512 / MENKES / PER / IV / 2007 dan dapat dituntut dan diberikan sanksi menurut delik pidana dan juga di denda.

  13. Menurut saya, hukum kesehatan yang ada sekarang masih kurang jelas bagi praktisi keperawatan. Untuk profesi kedokteran mereka memiliki UU kedokteran, tapi keperawatan tidak memiliki UU khusus, hanya berada di bawah UU kesehatan yang sangat bisa di interpretasikan berbeda2 oleh siapa saja. Pertanyaan saya sekarang, kenapa praktisi keperawatan sangat susah meng-gol kan hal spt itu. Kalau kita bertanya pada ahli2 keperawatan di Indonesia, mereka selalu berkata hal tersebut sudah di bicarakan dan sudah di buat draft-nya. Tapi realisasi nya sangat lama dibandingkan jika praktisi kedokteran merancang UU.
    Hal ini bisa menjadi perenungan bagi kita semua, bagaimana perlakuan pemerintah terhadap profesi keperawatan. Di satu pihak perawat di tuntut untuk bekerja lebih profesional, tapi di pihak lain perlindungan terhadap perawat nyaris tidak ada. Saya membaca beberapa artikel bahwa di UK, Department of Health -nya telah membuat UU yang jelas bahwa perawat bisa memberikan resep khususnya bagi perawat yang bekerja di komunitas. Tentunya perawat2 tersebut memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dan juga mengikuti pendidikan keperawatan untuk prescribing. Ini menjadi back-up perawat untuk mengerjakan tugasnya tanpa perlu khawatir di anggap mal-praktek. Hal seperti ini lah yang belum ada di Indonesia dan hopefully di masa y.a.d kondisi seperti ini bisa terjadi di Indonesia. asalkan seluruh perawat bersatu dan tidak saling menjatuhkan. Maju terus perawat Indonesia!

  14. Ditujukan kepada perawat yg buka praktek tanpa izin dan dasar hukum yg jelas wajib membaca ini :
    UU RI No.8 Thn.1999 Tentang Perlindungan Konsumen

    Tindakan praktek keperawatan anda yg dapat merugikan klien/pasien atau konsumen dapat menjerat anda secara hukum dikenakan sanksi pidana melalui UU Perlindungan Konsumen.

    Mohon agar dapat diindahkan dan diperhatikan agar jangan sampai rakyat atau masyarakat yg dirugikan

    Perawat tak bisa sembarangan buka praktek mandiri dg melakukan tindakan medis walaupun terbatas. UU No. 29 Tahun 2004 memuat sanksi pidana dan denda kepada siapapun yang menjalankan praktek kedokteran tetapi sebenarnya tidak berwenang. Sumber: Hukumonline.com

    Sekedar mengingatkan bahwa sesuai dengan peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang menegaskan perawat dan bidan melakukan pekerjaannya harus dibawah pengawasan dokter. “Akan tetapi jika terjadi penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan dalam algoritma klinik yaitu dengan terjadinya malpraktek maka perawat dan bidan harus bertanggung jawab atas terjadinya malpraktek tersebut,”

    Perawat yg terbukti memberikan pelayanan medis secara mandiri menyalahi Permenkes RI Nomor 512 / MENKES / PER / IV / 2007 dan dapat dituntut dan diberikan sanksi menurut delik pidana dan juga di denda.

  15. Setuju Mari sama-sama kita berjuang dang berfikir prafesional untuk kondisi itu, Terima kasih

  16. dan Mari sama-sama kita duduk bersama agar tidak ada Profesi lain merasa lebih hebat dari profesi lainnya dan mari kita perjelas hukum kesehatan diIndonesia agar tidak ada yang dirugikan, tidak merasa disepelekan dan saling menghargai diantara profesi kesehatan, Hukum dibuat oleh manusia yang tanda kutib masih banyak kepentingan untuk apa dan pada siapa aturan dibuat. Sedang diIndonesia semuanya serba tidak jelas…..

  17. Saya kira letak permasalahannya ada di wadah organisasi keperawatan dlm hal ini adalah PPNI dan saya kira pemerintah tidak akan menghalangi UU Praktek Keperawatan asalkan ada lembaga yg melindungi perawat seperti
    1. Konsil Keperawatan Indonesia
    2. Kolegium Perawat Indonesia
    3. Asosiasi Institusi Keperawatan Indonesia
    4. Majelis Kehormatan Keperawatan

    Nah, lembaga ini dibentuk dan diprakarsai oleh PPNI dan bukan pemerintah dlm hal ini Depkes, Dinkes atau DPR.

    Bagaimana sekarang ?
    Apakah sudah jelas kenapa UU Praktek Keperawatannya ditunda ?

    Hal itu disebabkan karena Tidak ada badan atau lembaga seperti Konsil Keperawatan Indonesia,dimana Konsil ini nantinya akan membuat Standar Kompetensi Praktek Perawat

    Jadi kalian perawat2 yg muda segeralah ber-inisiatif untuk membentuk Konsil Keperawatan.

    Hayo,kapan mau dideklarasi
    KONSIL KEPERAWATAN INDONESIA itu ?

    dan berhentilah menyalahi dan merengek2 sama pemerintah yg menurut Anda tidak adil padahal kekurangan ada pada wadah Organisasi Anda ?

  18. Ada beberapa catatan kecil dan beberapa pertanyaan dari komentar diatas,yaitu :
    1. Apakah Perawat dibenarkan menuliskan Resep ?
    2. Resep obat yang mana ?
    -Obat Resep (Gol. Narkotik, Gol.O)
    -Obat Resep (Gol. Obat Keras, Gol.G)
    -Obat Bebas (Terbatas, Gol.W)
    – Obat Bebas (Gol. B).
    3. Apakah PPNI sudah menerbitkan Buku Pedoman Penulisan Resep Obat ?
    4. Apakah PPNI sudah menerbitkan Standar Kompetensi Perawat ?

    Secara hukum, Perawat tidak punya dasar hukum untuk menulis resep obat dan ini faktanya :
    Yang pertama menurut KEPMENKES NOMOR 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang
    STANDAR PELAYANAN FARMASI pada
    Bab 1 Ayat 1 disebutkan
    Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter
    hewan kepada Apoteker, untuk menyediakan dan menyerahkan obat
    bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.

    Jelas disini bahwa apotik tidak boleh menerima resep yg ditulis dari Perawat

    Yang kedua menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN pada
    BAB 1 PASAL 1 AYAT 1
    Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter
    gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan.

    Dan pada BAB VI tentang REGISTRASI DOKTER DAN DOKTER GIGI yaitu Pasal 35 ayat:

    (1) Dokter dan dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai
    wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan kompetensi
    yang dimiliki, yang terdiri atas:

    a. mewawancarai pasien;
    b. memeriksa fisik dan mental pasien;
    c. menentukan pemeriksaan penunjang;
    d. menegakkan diagnosis;
    e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;
    f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi;
    g. menulis resep obat dan alat kesehatan;
    h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi;
    i. menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan
    j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah
    terpencil yang tidak ada apotek.

    Pada UU No 29 Tahun 2004 bahwa hanya dokter dan dokter gigi yang punya nomor registrasi yg boleh menulis Resep dan Perawat tidak diperbolehkan menulis Resep obat.

    Perawat yg terbukti memberikan pelayanan medis secara mandiri seperti menulis resep obat menyalahi Permenkes RI Nomor 512 / MENKES / PER / IV / 2007 dan dapat dituntut dan diberikan sanksi menurut delik pidana dan juga kena denda.

    Perawat yg menulis resep obat termasuk Criminal malpractice yang bersifat sengaja dpt dituntut berdasarkan pasal 344 KUHP, membuat surat keterangan palsu seperti resep obat atau surat izan sakit dan sehat dapat dituntut berdasarkan pasal 263 KUHP, melakukan aborsi tanpa indikasi medis, sirkumsisi,melakukan persalinan abnormal ( pasal 299 KUHP).

    Sedangkan Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya
    Perawat melakukan tindakan medis seperti memberikan resep obat tanpa persetujuan pasien dan tidak ada pendelegasian dari dokter (informed consent) dapat dituntut berdasarkan pasal 299 KUHP.

    Dan bilamana akibat obat yg diberikan perawat menyebabkan reaksi alergi dan efek samping termasuk Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) sehingga menjadi cacat atau meninggalnya pasien dapat dituntut berdasarkan pasal 344 KUHP dan UU RI No.8 Thn.1999 Tentang Perlindungan Consumen

    Sekedar mengingatkan bahwa sesuai dengan peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang menegaskan perawat dan bidan melakukan pekerjaannya harus dibawah pengawasan dokter. “Akan tetapi jika terjadi penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan dalam algoritma klinik yaitu dengan terjadinya malpraktek maka perawat dan bidan harus bertanggung jawab atas terjadinya malpraktek tersebut,”

    Perawat tak bisa sembarangan buka praktek mandiri dg melakukan tindakan medis walaupun terbatas seperti menulis dan memberikan resep obat dpt menyalahi UU No. 29 Tahun 2004 memuat sanksi pidana dan denda kepada siapapun yang menjalankan praktek kedokteran tetapi sebenarnya tidak berwenang.

    HUKUM DIBUAT UNTUK MELINDUNGI RAKYAT DAN MASYARAKAT DARI PIHAK YG TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB

    Terima Kasih

  19. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa :

    -Perawat tamatan D3 AKPER dg masa pendidikan 3 tahun lebih banyak jumlahnya ketimbang perawat tamatan S1 dan S2 serta perawat spesialis. Hal ini menyebabkan bahwa perawat itu sangat tergantung dengan dokter baik di Puskesmas, Klinik Swasta dan Rumah Sakit

    -Perawat tamatan D3 AKPER dg pengalaman kerja lebih dari 5 tahun mempunyai skill lebih terampil dan tajam dibandingkan dg perawat S1, S2 dan bahkan perawat spesialis.
    -Hal ini menyebabkan anggapan bahwa tidak ada kelebihan atas perawat S1, S2 dan bahkan perawat spesialis baik dimata dokter maupun masyarakat terhadap kasus klinik yg ditangani oleh semua jenjang profesi perawat adalah SAMA.

    -Berbeda dengan profesi dokter dengan jenjang dokter umum,dokter spesialis dan dokter spesialis konsultan, mereka punya hirarki , wewenang dan tanggung-jawab berbeda-beda dg tingkat kesulitan kasus klinik yg beda juga dalam setiap manajemen kasus klinik yg dijumpai sehingga skill maupun keputusan setiap dokter akan berbeda kualitas dan kuantitasnya berdasarkan jenjang profesi.
    Hal inilah yg membuat jurang perbedaan yg dalam antara profesi dokter dg perawat dan sudah tentu dokter spesialis konsultan lebih hebat daripada perawat spesialis berdasarkan jam terbang, skill dan kaidah ilmiahnya.

    Coba anda simpulkan sendiri bila kita bandingkan sain dan skill dari
    1.Perawat spesialis KMB dg dokter spesialis anestesi konsultan Intensive Care (SpAn,KIC)
    2.Perawat spesialis KMB dg dokter spesialis bedah konsultan bedah digestive (SpB-KBD)
    3.Perawat spesialis KMB dg dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematology dan onkologi medik (SpPD-KHOM)
    4.Perawat spesialis KMB dg dokter spesialis anestesi (SpAn)
    5.Perawat spesialis KMB dg dokter spesialis bedah (SpB)
    6.Perawat spesialis KMB dg dokter spesialis penyakit dalam (SpPD)

    Tunjukkan saja sain dan skill anda sebagai Ns. SpKMB kepada dokter dan masyarakat sehingga biarlah masyarakat yg akan menilainya jadi anda tidak perlu merasa rendah diri,ok

    Terima Kasih

  20. Salut buat pak nardi!, sega polemik legal aspects praktek Keperawatan di blog ini memperjelas keberadaan profesi perawat. keep rolling man!

  21. PLEASE KAMI SETUJU DAN KAMI PERAWAT MENYADARI KEKURANGAN KAMI…..TETAPI SEMUA ITU MASUK DALAM SISTEM, PERAWAT (PPNI) SUDAH BERUSAHA MENGINISIASI UNTUK MEMBENTUK KONSIL TETAPI DASARNYA SAJA BELUM ADA, DAN YANG BERHAK MEMPROSES PEMERINTAH DALAM HAL INI DEPKES……YANG NOTABENE SAMPAI SAAT INI PROSES MASIH PANJANG, INGAT KITA INI DALAM SATU SISTEM PEMERINTAH INDONESIA……….

  22. Saya setuju sekali bahwa kita ini dalam satu sistem pemerintah dan anda bisa kuliah juga karena kebaikan pemerintah yg bersedia memfasilitasi eksistensi fakultas keperawatan dan ada satu catatan dlm komentar anda bahwa apakah demikian halnya bahwa profesi dokter punya kedudukan hukum yg istimewa dibandingkan profesi perawat ?
    Lalu kenapa profesi dokter bisa dan mampu mempunyai konsil kedokteran Indonesia, kolegium pendidikan dokter Indonesia, Majelis Kehormatan disiplin kedokteran indonesia dan Undang2 Praktek Kedokteran ?
    Tolong dicatat bahwa :
    Tidak ada satupun profesi di Indonesia ini mempunyai kedudukan istimewa dibidang hukum ?
    Yang jelas bahwa sejauh pengamatan saya adalah PPNI sama sekali tidak berusaha misalnya membuat Standar Kompetensi Perawat, Apakah PPNI sudah membentuk kolegium pendidikan perawat ? Apakah ada buktinya bahwa PPNI saat ini bekerja maksimal dlm memperjuangkan UU Praktek Keperawatan ? Anda tahu tidak syarat untuk membuat Undang-undang itu ? Saya cuma menyimpulkan bahwa jangan2 perawat itu BUTA HUKUM tidak tahu sama sekali dg kaidah-kaidah hukum !!! Dan wajar saja bahwa saat ini profesi dokter diakui oleh masyarakat itu HEBAT karena telah membuktikan dirinya melalui proses Hukum dan Undang-undang yang sangat rasional dan jelas,sedangkan perawat cuma bisa MENGELUH dan CENGENG serta melulu menyalahkan PEMERINTAH ?

  23. Sepengetahuan saya UU Kesehatan No 23 Tahun 1992 tersebut banyak menguntungkan profesi keperawatan. Contoh pengakuan secara akademis terhadap profesi ini terdapat pada Pasal 32.

    Dan pemerintah telah merespon dengan menerbitkan Kepmenkes 1239/2001 tentang Registrasi dan Praktik Perawat Perorangan
    Bila Sdr mengatakan perawat tidak boleh praktik, perlu dipahami lebih dulu dalam konteks apa.
    Kalau yang dimaksud praktik pengobatan atau medical treatment, memang bukan wilayah perawat. Namun perawat tetap bisa praktik mandiri dengan ilmu dan teknik keperawatan, baik secara individu maupun kelompok. Bukankah Sdr mengatakan, perawat sudah punya area yang jelas.
    Kesimpulannya bahwa perawat boleh saja praktek perorangan asal jangan memberikan resep atau obat pada pasien karena bentuk praktek ini termasuk wilayah prakteknya dokter.

  24. Kepada SAUDARA ian-sh, kenapa komentar anda selalu negatif terhadap perawat …..???????, kita saat ini, semua perawat yang tahu diri termasuk PPNI sedang berjuang dan memperjungan Nasib KAMI, BUKAN kami CENGEN dan MENGELUH terhadap pemerintah…..tetapi kami dalam sistem pemerintah maka kami berbicara dengan pemeritah…..pada siapa lagi……ANDA seperti tidak suka dengan perawat…….KALAU anda mau tahu yang anda tanyakan tentang PPNI datang saja MAS…..Terbuka kok, apa lagi Sarjana Hukum seperti sdr yang pinter HUKUM….coba bantu kami……..Setahu saya Standar kompetensi sudah ada tapi belum dilegalkan, Kolegium pendidikn keperawatan sudah ada Yaitu AIPNI, dan saat ini konsil belum ada karena UUnya belum MAS…….Coba anda pahami kami…jangan menyelahkan kami terus………DAtang ketempat saya kita diskusi baik-baik…………Dekat tempat saya dengan anda itu……….///????????

  25. maaf,saya ian-sh,siapa yg saudara maksud,coba anda lihat komentar saya diatas,kalau tidak salah sdr. surya yg berkomentar dan cuma saya minta agar saudara nardi juga jangan menyalahkan pemerintah terus dan coba saudara datang ke LBH atau DPR dan tanyakan kenapa demikian. Kami pada dasarnya tidak senang kalau perawat cuma bisa menyalahkan pemerintah dan kebetulan saya kerja sbg pns depkes dan tidak ada niat pemerintah seburuk yg saudara tuduhkan…..Dan ingat sdr nardi kalau anda memperjuangkan agar praktek perawat itu sama dg praktek dokter yaitu bisa menulis resep dan memberikan obat maka itu berarti anda membuka pinta perang urat syaraf dan tak akan pernah UU Praktek Keperawatan akan disahkan….!!!!!!!

  26. Saya balik pertanyaannya :
    Kenapa Anda yg selalu berpikiran negatif thd Pemerintah ?
    Sepertinya andalah yg kelihatannya tidak suka dg Pemerintah dan selalu menyalahkan system pemerintah Indonesia yg tidak menguntungkan perawat ? dan tolong jangan memutar-balikkan fakta !!!
    Apakah menurut Anda bahwa Pemerintah sama sekali tidak mempunyai jasa terhadap perawat ?
    Kenapa pemerintah sampai sekarang belum juga mengesahkan UU Praktek Perawat itu harus disikapi dg berpikir positif dan dewasa yg sebenarnya end the point-nya ada pada organisasi profesi perawat itu sendiri ? Yah, wajar saja, system pendidikan dan keprofesian perawat itu sendiri saja masih tidak ada kejelasan dari organisasi profesi perawat seperti belum juga dilegalkan standar kompetensi perawat ?
    Dan jelas bahwa tampaknya memang benar bahwa perawat itu BUTA HUKUM, Anda tahu tidak bahwa dlm UU itu nantinya dijelaskan apa itu konsil keperawatan dan tugas2nya,sehingga mutlak harus ada konsil terlebih dahulu dibentuk lalu baru disahkan UU Praktek Perawatnya.
    Dalam menjalankan tugas Konsil Keperawatan Indonesia nantinya diharapkan mempunyai wewenang :
    a. menyetujui dan menolak permohonan registrasi perawat general dan spesialis
    b. menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi perawat general dan spesialis
    c. mengesahkan standar kompetensi perawat general dan spesialis
    d. melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi perawat general dan spesialis
    e. mengesahkan penerapan cabang ilmu keperawatan yg baru seperti komplementary nursing ???;
    f. melakukan pembinaan bersama terhadap perawat general dan spesialis mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi; dan
    g. melakukan pencatatan terhadap perawat general dan spesialis yang dikenakan sanksi oleh organisasi profesi atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika profesi.
    Sedangkan substansi dari UU Praktek keperawatan itu adalah :
    -bahwa penyelenggaraan praktik keperawatan yang merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan harus dilakukan oleh perawat general dan spesialis yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian dan kewenangan yang secara terus-menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, registrasi, lisensi, serta pembinaan, pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan praktik keperawatan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui konsil keperawatan ???
    -bahwa untuk memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada penerima pelayanan kesehatan, perawat general dan spesialis, diperlukan pengaturan mengenai penyelenggaraan praktik keperawatan;
    -bahwa berdasarkan pertimbangan diatas barulah perlu membentuk Undang-Undang tentang Praktik Keperawatan
    Nah jelas bahwa Konsil perawat harus terlebih dahulu dilegalkan sebelum UU disahkan.
    Jadi Sdr. Nardi harus banyak bertanya dg pakar hukum kesehatan agar tidak lagi berprasangka buruk thd pemerintah, Setuju ….???

  27. Pada Mas Surya_123 saya sangat setuju dengan sdr ……jangan salah sangka, saya tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah……..semua dilihat degan baik. disamping Pemerintah, kesalahan ada juga pada profesi perawat dan organisasi profesi PPNI…..jadi jgan menduga bahwa saya sepenuhnya menyalahkan pemerintah…………..saya sangat terbuka dengan pendapat bahwa perawat sendiri juga harus bertanggung jawab terhadap profesinya……..setuju ?????

    Kepada Mas Ian-SH…..maaf kalau saya salah menanggapi……karena ada satu komentar yang sangat membuat sakit hati saya sebagai perawat……dan saya tidak tampilkan…….dari beberapa komentar sdr dan surya sering sekali membuat sakit hati…….tetapi saya terima dengan lapang dada, makannya saya undang sdr ke tempat saya………….saya tidak melulu menyalahkan pemerintah “just clear”, memang saya BUTA HUKUM makannya saya tidak bisa mempermainkan hukum …….. dan sekali lagi masalah resep, dan memberikan obat…..saya tidak pernah melakukan itu kecuali resep yang saya maksud ….adalah membuat sejenis ramuan daun-daunan yang didasari oleh hasil kursus saya dan sertifikat saya saat belajar herbal dan obat yang saya berikan adalah obat herbal yang notabene disebut suplemen dan saya punya KARTU DISTRIBUTOR RESMI, jadi apa yang saya langgar, Resep dan memberikan obat KIMIA adalah wewenang MEDIS BUKAN PERAWAT tentunya anda LEBIH TAHU ITU…….DAN SAYA TIDAK PERNAH MEMBERIKAN ITU, sekali lagi maaf dan tolong bantu profesi kami……bagaimana kami bisa maju seperti profesi perawat didunia lain…….SAYA JUGA PNS DEPKES…….Oleh karena itulah saya bisa berbicara…….dan saya tahu sdr orang loyal terhadap DEPKES…..Tapi mari kita lihat apa kekurangan dan kelebihan masing-masing jangan menutup diri atas kekurangan…..SAYA perawat mulai dari bawah, rakyat kecil makannya saya bsa merasakan sebagai orang bawahan….Oleh Karena itu motivasi saya mendirikan klinik keperawatan agar Masyarakat dilapangan lebih mengenal perawat, Saya sebagai perawat bisa membantu ikut menciptakan kesehatan 2010 walaupun kecil perannya, dan rakyat kecil disekitar saya tinggal yang tidak mampu berobat ke fasilitas kesehatan datang ke saya dan gratis (tidak saya punggut biaya) tetapi dengan cara saya dan herbal yang saya berikan gratis bila mana mereka tidak mampu (dan itu tidak bohong-jadi bukan masalah duit saja saya mendirikan klinik) motivasinya sangat baik….itu harapan saya tetapi orang seperti anda surya dan ian selalu berpandangan negatif……..SORY mas memang uang penting tapi lebih penting MEMBANtu kepada siapa yang membutuhkan. Usaha saya banyak……anda bisa datang ketempat saya,,,,,,,klinik hanya salah satu bentuk kerja sosial saya.

    Tentunya anda lebih pinter dan tahu zamannya sudah zaman demokrasi, transpransi,,,,,keterbukaan jadi kalau salah akui salah….kalau benar akui benar. NURANI YANG BICARA BUKAN NAFSU MENJATUHKAN PROFESI LAINNYA>

  28. Profesi anda adalah perawat namun anda buka praktek sebagai herbalist dan sudah barang tentu praktek anda dengan sendirinya menjatuhkan profesi anda sendiri sebab bila anda praktek herbalist sebagai perawat tentu ada aturan mainnya dan anda harus gentlemen bilamana PPNI sebagai wadah organisasi perawat tidak mengakui bahwa herbalist adalah bagian dari kerja perawat maka sebaiknya anda tidak membawa profesi anda sebagai perawat sekaligus herbalist, tentu andala yang menjatuhkan profesi perawat itu sendiri dan jangan suka cari kambing hitam ke masyarakat yg notabene masih AWAM dg wilayah kerja perawat

  29. Ada beberapa catatan kecil dan beberapa pertanyaan dari komentar mbak rini on Agustus 26, 2008 at 9:21 diatas,yaitu :
    1. Apakah Perawat dibenarkan menuliskan Resep ?
    2. Resep obat yang mana ?
    -Obat Resep (Gol. Narkotik, Gol.O)
    -Obat Resep (Gol. Obat Keras, Gol.G)
    -Obat Bebas (Terbatas, Gol.W)
    - Obat Bebas (Gol. B).
    3. Apakah PPNI sudah menerbitkan Buku Pedoman Penulisan Resep Obat buat Perawat ?
    4. Apakah PPNI sudah menerbitkan Standar Kompetensi Perawat ?

    Secara hukum, Perawat tidak punya dasar hukum untuk menulis resep obat dan ini faktanya :
    Yang pertama menurut KEPMENKES NOMOR 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang
    STANDAR PELAYANAN FARMASI pada
    Bab 1 Ayat 1 disebutkan
    Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter
    hewan kepada Apoteker, untuk menyediakan dan menyerahkan obat
    bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.

    Jelas disini bahwa apotik tidak boleh menerima resep yg ditulis dari Perawat

    Yang kedua menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK KEDOKTERAN pada
    BAB 1 PASAL 1 AYAT 1
    Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter
    gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan.

    Dan pada BAB VI tentang REGISTRASI DOKTER DAN DOKTER GIGI yaitu Pasal 35 ayat:

    (1) Dokter dan dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai
    wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan kompetensi
    yang dimiliki, yang terdiri atas:

    a. mewawancarai pasien;
    b. memeriksa fisik dan mental pasien;
    c. menentukan pemeriksaan penunjang;
    d. menegakkan diagnosis;
    e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;
    f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi;
    g. menulis resep obat dan alat kesehatan;
    h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi;
    i. menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan
    j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah
    terpencil yang tidak ada apotek.

    Pada UU No 29 Tahun 2004 bahwa hanya dokter dan dokter gigi yang punya nomor registrasi yg boleh menulis Resep dan Perawat tidak diperbolehkan menulis Resep obat.

    Perawat yg terbukti memberikan pelayanan medis secara mandiri seperti menulis resep obat menyalahi Permenkes RI Nomor 512 / MENKES / PER / IV / 2007 dan dapat dituntut dan diberikan sanksi menurut delik pidana dan juga kena denda.

    Perawat yg menulis resep obat termasuk Criminal malpractice yang bersifat sengaja dpt dituntut berdasarkan pasal 344 KUHP, membuat surat keterangan palsu seperti resep obat atau surat izan sakit dan sehat dapat dituntut berdasarkan pasal 263 KUHP, melakukan aborsi tanpa indikasi medis, sirkumsisi,melakukan persalinan abnormal ( pasal 299 KUHP).

    Sedangkan Criminal malpractice yang bersifat ceroboh (recklessness) misalnya
    Perawat melakukan tindakan medis seperti memberikan resep obat tanpa persetujuan pasien dan tidak ada pendelegasian dari dokter (informed consent) dapat dituntut berdasarkan pasal 299 KUHP.

    Dan bilamana akibat obat yg diberikan perawat menyebabkan reaksi alergi dan efek samping termasuk Criminal malpractice yang bersifat negligence (lalai) sehingga menjadi cacat atau meninggalnya pasien dapat dituntut berdasarkan pasal 344 KUHP dan UU RI No.8 Thn.1999 Tentang Perlindungan Consumen

    Sekedar mengingatkan bahwa sesuai dengan peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan yang menegaskan perawat dan bidan melakukan pekerjaannya harus dibawah pengawasan dokter. “Akan tetapi jika terjadi penyimpangan dari pedoman yang telah ditetapkan dalam algoritma klinik yaitu dengan terjadinya malpraktek maka perawat dan bidan harus bertanggung jawab atas terjadinya malpraktek tersebut,”

    Perawat tak bisa sembarangan buka praktek mandiri dg melakukan tindakan medis walaupun terbatas seperti menulis dan memberikan resep obat dpt menyalahi UU No. 29 Tahun 2004 memuat sanksi pidana dan denda kepada siapapun yang menjalankan praktek kedokteran tetapi sebenarnya tidak berwenang.

    HUKUM DIBUAT UNTUK MELINDUNGI RAKYAT DAN MASYARAKAT DARI PIHAK YG TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB

    Terima Kasih

  30. Coba anda renungkan kembali pada papan praktek anda tertulis :
    KLINIK KEPERAWATAN ‘MANDIRI CARE’
    Mari kita kaji secara hukum tentu berdasarkan PERDA dari walikota melalui Dinkes Kodya bahwa maknanya adalah :
    A. Ketentuan Kewajiban
    1. Sudah sesuai dengan izin praktek keperawatan dari Dinkes Kodya (Keputusan Walikota),Depkes dan PPNI
    2. Memenuhi persyaratan permohonan izin praktik keperawatan
    3. Memberikan tindakan keperawatan yang akan dilakukan sesuai izin permohonan

    B. Ketentuan Larangan :
    1. Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan standar profesi
    2. Menjalankan Praktik diluar ketentuan yang ada di dalam izin Praktik
    3. Memberikan atau meracik obat/suplemen
    4. Menjalankan Praktik dalam keadaan sakit dan mental terganggu

    C. Ketentuan Pencabutan SIPP
    1. Atas dasar keputusan Majelis Kehormatan Keperawatan
    2. Melakukan tindakan pidana

    Pertanyaannya :
    1. Apakah anda telah menjalankan praktik keperawatan sesuai dengan izin permohonan saudara kepada pihak yg terkait seperti Dinkes Kodya (Keputusan Walikota) ?
    2. Apakah anda menjalankan praktik keperawatan sesuai dengan standar profesi perawat ?
    3. Apakah terapi herbal sudah legal dan masuk dalam standar profesi perawat serta diakui oleh PPNI ?

    Jawabnya sangat tergantung dengan hati nurani anda sebagai perawat yg tentunya berakhlak mulia serta dibutuhkan sikap gentlemen dari sdr. Nardi bilamana praktek anda ada unsur menyimpang dari ketentuan yg ada dan bersedia untuk bertanggung jawab.
    Jadi sebaiknya anda itu bekerja sebagai perawat spesialis yg profesional dan bukan menuruti nafsu anda untuk praktek yg bukan wilayah profesi anda sebagai perawat spesialis KMB

  31. ian_sh coba anda baca dengan cermat tulisan m.rini.. yang dimaksud mbak rini itu menceritakan apa yang dia baca bahwa di luar negeri (BUKAN DI INDONESIA) perawat boleh menulis obat.

    jadi jangan terlalu nafsu dong…
    sepertinya orang-orang dah bosan baca tulisan anda, itu-itu aja

  32. sepertinya faridakmb sakit hati sekali dengan tulisan sdr. ian-sh bahwa perawat tidak boleh menulis resep dan memberikan obat, yg ditulis oleh sdr. ian-sh itu adalah hukum dan peraturan tentang mekanisme hukum kesehatan, karena saat ini banyak sekali kasus malpraktek yg dilakukan oleh dokter, jadi wajar saja dari kalangan profesi hukum menilai bahwa profesi perawat yg menulis resep berpotensi timbulnya malpraktek jadi sebaiknya anda berlapang dada saja kalau orang mengkritik dan bagi kami yg diluar praktisi kesehatan tentu menimbulkan tanda tanya ada apa dg profesi perawat yg menuntut diperlakukan seperti layaknya dokter ? buka praktek,menulis resep dan memberikan obat, kayaknya anda salah jurusan,jadi sebaiknya kalau sudah menjadi perawat, yah, harusnya anda sudah tahu peran dan tugas perawat itu yg bagaimana ? Dan terakhir di negara mana bahwa perawat dapat buka praktek mandiri,menuliskan resep dan memberikan obat ? setahu saya hukum di Luar Negeri lebih kejam dibandingkan di Indonesia dan perlu anda ketahui bahwa pengacara di Amerika sangat ditakuti dan profesi yg paling favorit sehingga anda perawat kalau nyuntik saja menyebabkan pasien kesakitan maka anda akan dituntut, bahkan dokter yg menulis resep antibiotik yg tidak rasional saja sudah kena tuntut apalagi perawat yg menulis resep sembarangan dan irasional lebih lagi sanksi hukumnya…….

  33. jadi curiga jangan2 ian-sh n surya ini satu kepala alias dia-dia juga orangnya,…
    atau anak kembar…hihihi… komennya selalu senada dan seirama sih…
    peace om…=p

  34. nampaknya anda kehabisan kata2 don, dan perlu dicamkan bahwa selain itu juga tidak ada orang yg bisa maju bila tidak ada kritikan dan sepanjang pengamatan saya bahwa profesi perawat itu terlalu banyak dikritik itu berarti menunjukkan bahwa profesi perawat itu masih banyak kekurangannya walapun anda katakan ada body of knowledge dan mulia, coba saja anda pikirkan bahwa saat ini di bidang pelayanan kesehatan tidak ada masyarakat yg merasakan keahlian perawat bila dibandingkan dg profesi dokter dan bidan yg punya ‘clue’ sbg ahli atau expert di bidangnya. Nah kalau anda bilang bahwa mas nardi adalah ners spesialis KMB lalu timbul pertanyaan ahli apa ? dan mana kiprahnya di bidang pelayanan kesehatan ?
    Kalau ternyata perawat spesialis itu lebih banyak di institusi pendidikan sebagai dosen dimana letak mulia nya profesi keperawatan itu ? semua dosen itu tugasnya mulia don, dan apa batasan “mulia” menurut anda bila semua anggota perawat tidak tahu aturan ?

  35. @ surya:
    hhhmmmm…. Anda ada betulnya juga sih memang profesi ini baru bangun dan belum seluruh anggota tubuhnya sadar akan posisinya masing, yah sebagai manusia yang kata bang Yoke masi berbau kencur, saya memang masih mempunyai pikiran terbuka dalam menanggapi kritikan orang lain, tapi sayangnya om SUrya ini berbeda dengan saya, karena dari jaman batu komentar selalu saja mengkritik tanpa punya solusi yang konkrit,…
    masa sih om Surya gak tau kalo satu perbuatan jauh lebih baik dari seribu kata2…. percuma om ngasih komen panjang2 di sini, kalo ente gak berbuat apa2… (tapi saya juga gak yakin sih ente bisa berbuat apa)
    TAPI>>> kalo berhubungan sama usaha yang dilakukan oleh Pak Nardi,sampai sekarang saya tidak melihat adanya penyimpangan secara etika profesi… seperti yang pernah saya sampaikan juga disini, toh semua orang berhak kok jadi herbalis asal mengikuti pelatihan resmi yang diadakan oleh institusi yang resmi pula (saya kurang tahu nama institusinya, tapi saya pernah dengar kok), lha kok Pak NArdi yang basic-nya Nursing ini yang sama2 punya tujuan menyehatkan manusia malah dipermasalahkan sih??berarti dokter, bidan, n profesi kesehatan yang lain gak boleh jadi herbalis yah??
    mohon dibalas dengan Ilmiah ya Om (kalo saya mah belum disumpah profesi n masih belajar,jadi sedikit ngeyel boleh lah =p)

  36. Doni, seharusnya anda dapat menyimpulkan dari komentar kajian kritik terhadap profesi perawat dlm blog ini bahwa inti permasalahan timbulnya kritikan itu disebabkan karena profesi perawat tidak bisa membuktikan eksistensinya dalam bidang hukum. Anda tahu bahwa kajian hukum itu mempersoalkan aturan main,tata cara, peraturan dan undang-undang yg sifatnya adalah mengatur hubungan masyarakat dlm tatanan sosiokultural termasuk di dalamnya adalah hukum publik yg berisi tentang hak dan kewajiban masyarakat terhadap perannya masing2.
    Seharusnya kalian para perawat membeberkan aturan main yg formal terhadap persoalan profesi keperawatan kepada semua lapisan masyarakat khususnya bidang hukum dan bukan malah kalian para perawat berkutat mendiskusikan suatu wacana yg tidak jelas aturan mainnya seperti praktek herbal yg dilakukan oleh mas nardi ini dgn kapasitasnya sbg ners spesialis. Saya berikan contohnya don, bila doni sakit gigi, sudah barang tentu don, anda akan pergi berobat ke dokter gigi dan bukan ke dokter spesialis bedah syaraf..kenapa demikian don ? karena kita sudah tahu kompetensi seorang dokter gigi dan dokter spesialis bedah syaraf. Contoh kedua, ketika mata anda kabur dan tidak bisa melihat jarak jauh maka anda dengan sendirinya datang berobat ke dokter spesialis mata dan bukan dg ners spesialis KMB bukan…? Kenapa demikian..? karena kita semua sudah pada tahu kompetensi seorang dokter spesialis mata dan malah kita bertanya-tanya kenapa justru ada masyarakat yg berobat ke ners spesialis KMB dan diberikan obat herbal untuk mengurangi keluhan mata kaburnya dan diharapkan bisa sembuh karena terapi alternatif tersebut, dan bagaimana tanggung-jawabnya bila ada kerugian dipihak klien akibat konsumsi obat herbal seperti matanya justru malah menjadi buta ? nah sebagai orang hukum ini yg kita persoalkan, anda paham don…??? Jadi doni,kalau anda merasa dipojokan sebagai perawat sebaiknya anda saja yg memberikan solusinya kepada masyarakat dan sosialisasikan kepada semuanya bahwa perawat bisa mengobati masyarakat dg menggunakan obat herbal dg cara menunjukkan aturan mainnya, peraturannya dan undang-undangnya juga, sehingga tidak ada lagi komentar yg negatif terhadap profesi perawat gitu aja repot…..

  37. saya tidak comment panjang…teruskan perjuangan..sebarkan informasi kesehatan..sehingga ada timbal balik dgn masyarakat..jadi nyadar…tidak asal aja…

  38. Untuk Pak Nurdin, dari beberapa sumber yang saya dengar dan baca yang berkenaan dengan profesi keperawatan dan pemerintah terutama sekali dengan ministry of health yang nama mentrinya ibu FS, Si ibu mentri ini sendiri sangat2 tidak menghargai profesi keperawatan dan beliau juga bilang untuk apa perawat sekolah tinggi2 sampai S3 dan jadi profesor???
    Nah, yang jadi pertanyaan disini adalah jika pemerintah yang nota bene diwakili oleh si ibu mentri ini tidak bisa menghargai profesi lain dan cenderung menganggap remeh profesi lain apa mungkin ini mjd “salah satu” penyebab urusan hukum keperawatan tidak pernah terselesaikan?

  39. ini ngapain to
    rame2 smua?
    udah yang jelas menurut hukum
    PERAWAT GAK BOLEH NGERESEPIN!!!
    PERAWAT GAK BOLEH PRAKTEK!!
    gak usah berpanjang2 masalah debat profesi
    HUKUMNYA gitu mas……..
    Yakin Anda buka tuh klinik gak ngresepin obat?
    Oh ya?
    ntar coba deh gue jadi pasiennya… diresepin gak tuh? apa cuma konsul doang?
    konsul apaan nih maksudnya……

  40. Praktik Perawat = Praktik Ponari

  41. jadi perawat tidak boleh konsul tentang obat, tidak boleh konsul tentang poenyakit. perawat itu tugasnya mendamopingi dokter dan menerjemahkan serta melaksanakan apa yang ditulis dokter dalam medical recoerd. Kan aneh kalo berstatus perawat tapi punya tanya 10 hektar dan bisa beli mobil 10 buah, kecuali pelihara hantu kali….

  42. Kepada Rasid dan Ardi SSi Apt, Yang baik HATI dan tinggi HAti, Nampaknya anda tidak memahami perawat……dan melihat latar belakang dan komentar anda jelas anda tidak tahu perawat Tolong Komentarnya jangan menyinggung Para perawat…..Kami tidak pernah menyinggung profesi anda, Siapa yang melarang perawat tidak boleh menerima konsul yang anda katakan……kita belajar itu mas….Jangan Underestimed kalau tidak tahu tidak usahlah komntar MAcam-macam………….Memang kenapa kalau perawat puya mobil 10 tidak ada yang melarang jangan perawat yang profesional, Tukang sayur saja bisa punya mobil 10…….Jadi jangan Iri mas Urusilah Profesi anda dengan benar……Coba cari cara bagaimana biar harga obat tidak mahal….Mudah mendapatkan dan Ilegal tidak seperti sekarang ilegal……Jadi kalau koementar yang enak…..kalau gak tahu tak usah komentar……Dan Saudara Rasid Kalau anda orang intelek pasti tahu kami perawat Jelas beda dengan Pengobatan Ponari.

  43. Assalamualaikum Pak Nardi…
    saya sama mas sigit FIK 2001, sempet bikin website buat alumni FIK UI, di http://www.alumnifikui.org
    Coba2 main ke sana yah Pak, lebih mantep kalo nyumbang tulisan, n sukur2 ikut mempromosikan web itu…. terima kasih…

  44. Pak Nardi..biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu..Anggap saja “mereka2″ memotivasi kita dengan caranya sendiri…OK…

  45. Siapa ya yang bisa bantu saya….saya butuh buku algoritma keluaran IDI dan PPNI..saya butuh buku tersebut untuk urusan dinas..trimakasih atas bantuannya….

  46. Kepada Mb”Enizarti..Bahan yang dimaksud saya ada..bgm mengirimnya…???????Informasi dengan jelas…..kemana harus disampaikan…solnya harus dikopi karena bentuknya buku

    TKKKKKK

  47. sebagai org awam yang peduli isu diatas, saya ingin mengatakan bahwa sudah hukum alam bahwa golongan elit “dokter” ingin tetap mempertahankan status quo mjd penguasa,pengatur dll.tentu saja disini hanya sifat egois yang dikedepankan.masalah kesejahteraan dan kemajuan profesi lain, boro2 dibantu, yang ada malah dihambat.membuat kebijakan yg pro rakyat kecil dan membuat indonesia jadi sehat? itu juga masih jauuuh…bapak2 yg kontra dengan kemajuan perawat, apa anda sengaja menutup mata hati bahwa jelas sekali siapa yang sebetulnya kapitalis memiskinkan org yang sakit dan mengeruk keuntungan sebanyak2nya dari “industri kesehatan”.memanfaatkan keluguan sebagian besar rakyat indonesia yg sebetulnya menghambakan profesi elitnya.

  48. OK… Gini.. Permasalahannya apa ? Lagalitas ???
    PERAWAT GAK BISA NGERESEPIN OBAT. ITs REAL
    So, perawat tetap merawat pasien…” Cukup merawat. Untuk Resep dan Tindakan2 medis lainnya diserahkan ke dokter !!!! sirkumsisi, pemasangan infus, injeksi dll. Di Rumah Sakit & Puskesmas kebanyakan untuk masang infus, injeksi, sirkumsisi dilakuin perawat. Yang Bego siapa hayo ? Sebenarnya itu tugas siapa ??? Dokter Umum = Perawat D3.

  49. Terima kasih koreksinya……..Tapi maaF Kata Bego……tidak bisa dijustifikasi langsung karena makna yang anda sampaikan tidak sesederhana itu permasalahanya…..yang jelas banyak hal yang harus dikoreksi tentang kewenangan masing-masing profesi tenaga kesehatan tidak hanya perawat, tetapi semua termasuk anda Dokter…….kita melakukan semua tindakan tersebut karena anda yang sudah jelas harus melakukan anda tidak lakukan…..kalau perawat tidak melakukan tindakan2 tersebut bagaimana jadinya pasien dan pelayanan yang ada, yang penting adalah diatur suatu SOP, kewenangan serta delegasi yang jelas, kenyataannya Pasang infus, sirkunsisi, atau tidnakan lainnya yang termasuk tindakan infasive diantara yang disebut tersebut tidak dilakukan oleh dokter…jadi klau begitu dikleem itu pekerjaan dokter ya harusnya dilakukan tetapi kenyataannya dokter tidak mau melakukan……oleh karena itu dilakukan oleh perawat………..anda mau perawat tidak melakukan semua yang anda sebutkan tadi, kami tidak masalah…..asalkan anda-anda betul2 mau melakukannya…….Jadi Bego yang anda tanyakan jawabannya tidak sederhana masih banyak yang harus dikaji…..

  50. wahwah ternyata berat juga perjuangan sebagai perawat. banyak cibiran disanasini. saya kira maklum karena perawat didaerah lebih terkenal ketimbang dokternya karena mereka lebih banyak dan mmasyarakat. atau gini aja perawat sekalian aja tidak melayani pasien biar masyarakat desa pada bingung mau berobat kemana. dokter aja mahal untuk konsul tanpa resep aja 45 rb. mas saya juga perawat geregetan memang dengan sistem hukum dinegara ini yang lebih memihak pada yang berduit. RUU keperawatan tidak segera gol karena tidak ada dana sekian miliyar untuk bayar anggota dewan isunya. hanya ada beberapa fraksi yang mau mengegolkannya mungkin di Indonesia perawat disetting sebagai kacung para dokter. Saya menyerukan pada perawat klo memang kita harus melakukan sesuai undang2, anda jangan nyuntik, jangan nginfus, jangan tuliskan resep untuk dokter kerjakan sesuai yang jd wewenang anda jangan membantu dokter. saya punya pengalaman dengan dokter yang sok jd bos mrintah yang tdk seusuai wewenang kita tp dia justru melecehkan dan anggap kita kuli. ayo MOGOK MASSAL! biar pakar hukum yang sok pintar bisa melihat kesehatan tanpa perawat akan kuwalahan.

  51. Salam perawat indonesia. . .
    Biarlah para dokter ngomg apa. Mereka kan dari gol. Org kaya semua jadi wajarlah kalok dia menyombgkan diri. G usah di permasalahkn, karena mgkin hati mereka telh beku. Pdhal semua mnusia saling membutuhkan. Bsa di bayangkan seandainya semua perwt di negeri ini berhenti semua. Apakah sanggup para dokter membrkan asuhn keperawatan???. Mgkn smua manusia di negeri ini akan sakit semua. Saya seorg perawat saya hanya ingn mengabdi pada msayarakat untuk kepentingn bangsa ini. Saya tahu anda kaya, anda hebat, dan mgkn anda sgala2 nya. Mudah2an Allah selalu membrikan hidayah kpadamu . . .

  52. Wonderful post however I was wanting to know if you could write a litte more on
    this topic? I’d be very grateful if you could elaborate a little bit further. Appreciate it!

  53. Hmm is anyone else experiencing problems with the pictures on this blog loading?

    I’m trying to determine if its a problem on my end or if it’s the blog.
    Any suggestions would be greatly appreciated.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: